Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

17 Tujuan SDGs


Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di semua tempat

Memberantas segala bentuk kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi kemanusiaan. Meskipun jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah berkurang hingga setengahnya dari 1,9 miliar pada 1990, menjadi 836 juta pada 2015 terlalu banyak yang masih harus berjuang bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Secara global, lebih dari 800 juta orang hidup dengan penghasilan kurang dari $1,25 per hari; masih banyak yang kekurangan akses terhadap makanan layak, air minum yang bersih, dan sanitasi. Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat seperti yang terjadi di China dan India telah mengangkat jutaan orang dari kemiskinan, tapi kemajuan tersebut juga tidak seimbang. Perempuan secara tidak adil cenderung hidup dalam kemiskinan dibanding laki-laki akibat ketidaksetaraan dalam hal pekerjaan, pendidikan, dan kepemilikan tanah.

Sebanyak 80 persen dari jumlah total penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem berada di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara, di wilayah-wilayah tersebut kemajuan juga kurang begitu berarti. Angka ini diduga akan terus meningkat akibat adanya ancaman baru yang diakibatkan oleh perubahan iklim, konflik, dan kekurangan makanan.

SDGs adalah komitmen berani untuk menyelesaikan apa yang kami mulai, yaitu mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dan dimensinya pada tahun 2030. Hal ini termasuk membidik mereka yang hidup dalam situasi yang rentan, meningkatkan akses menuju sumber daya dan layanan mendasar, serta menyokong komunitas yang terdampak oleh konflik dan bencana yang berhubungan dengan iklim. 

Mengakhiri kemiskinan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan. 


Mengakhiri kelaparan, meraih ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan

Pada tahun 2030, hentikan kelaparan dan pastikan akses oleh semua orang, terutama orang miskin dan orang-orang dalam situasi rentan, termasuk bayi, makanan yang aman, bergizi dan cukup sepanjang tahun. Akhiri semua bentuk kekurangan gizi, termasuk pencapaian, pada tahun 2025, target yang ditargetkan secara internasional untuk stunting dan pemborosan pada anak di bawah usia 5 tahun, dan memenuhi kebutuhan gizi gadis remaja, wanita hamil dan menyusui serta orang lanjut usia.

Melipatgandakan produktivitas pertanian dan pendapatan produsen makanan berskala kecil, khususnya perempuan, masyarakat adat, petani keluarga, pastoralis dan nelayan, termasuk melalui akses darat dan tanah yang aman dan setara, sumber produktif dan masukan, pengetahuan, layanan keuangan, Pasar dan kesempatan untuk penambahan nilai dan pekerjaan non-pertanian.

Memastikan sistem produksi pangan yang berkelanjutan dan menerapkan praktik pertanian tangguh yang meningkatkan produktivitas dan produksi, yang membantu menjaga ekosistem, yang memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir dan bencana lainnya dan yang semakin meningkatkan kualitas tanah dan tanah. 

Pada tahun 2020, pertahankan keragaman genetik benih, tanaman budidaya dan hewan ternak dan hewan piaraan dan spesies liar yang terkait, termasuk melalui bank benih dan benih yang dikelola dengan baik dan beragam di tingkat nasional, regional dan internasional, dan mempromosikan akses terhadap dan adil dan setara Berbagi manfaat yang timbul dari pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait, sesuai kesepakatan internasional.

Meningkatkan investasi, termasuk melalui peningkatan kerjasama internasional, infrastruktur pedesaan, penelitian pertanian dan penyuluhan, pengembangan teknologi dan bank gen tanaman dan ternak dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pertanian di negara-negara berkembang, khususnya negara-negara terbelakang.

Mengadopsi langkah-langkah untuk memastikan berfungsinya pasar komoditas pangan dan turunannya dan memfasilitasi akses yang tepat terhadap informasi pasar, termasuk cadangan makanan, untuk membantu membatasi volatilitas harga pangan ekstrem. 


Memastikan hidup sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua

Sejak MDGs dibuat, telah ada pencapaian yang bersejarah dalam hal penurunan tingkat kematian anak, peningkatan kesehatan ibu hamil, serta perjuangan melawan HIV/AIDS, malaria serta penyakit lainnya. Sejak 1990, secara global terjadi penurunan lebih dari 50 persen kematian anak akibat penyakit yang bisa dicegah. Kematian ibu juga turun hingga 45 persen di seluruh dunia. Jumlah orang baru terinfeksi HIV/AIDS menurun hingga 30 persen antara tahun 2000 sampai 2013, dan lebih dari 6,2 juta orang telah diselamatkan dari Malaria.

Kemajuan ini sangat luar biasa, namun masih lebih dari 6 juta anak meninggal sebelum memasuki usia lima tahun. Sekitar 16 ribu anak meninggal setiap hari akibat penyakit yang bisa disembuhkan seperti campak dan tuberkulosis. Setiap hari, ratusan perempuan meninggal saat hamil atau akibat komplikasi saat melahirkan, dan di daerah yang masih berkembang, hanya 56 persen kelahiran di pedesaan dibantu oleh tenaga kesehatan profesional. Saat ini AIDS menjadi penyebab utama kematian di antara orang dewasa muda di Africa sub-Sahara, wilayah yang masih mengalami penderitaan hebat akibat epidemi HIV.

Kematian ini bisa dihindari melalui pencegahan dan perawatan, pendidikan, kampanye imunisasi, serta layanan kesehatan seks dan reproduksi. SDGs membuat komitmen berani untuk mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria dan penyakit menular lainnya pada 2030. Tujuannya adalah untuk meraih layanan kesehatan dengan cakupan universal dan menyediakan akses menuju obat-obatan dan vaksin yang efektif serta aman bagi semua. Mendukung penelitian dan pengembangan vaksin adalah bagian penting dari proses ini, seperti halnya penyediaan akses menuju obat-obatan dengan harga terjangkau.

Mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang

Sejak tahun 2000, kemajuan dalam pencapaian target pendidikan dasar universal telah begitu besar. Tingkat keikutsertaan di wilayah berkembang mencapai 91 persen pada 2015, dan jumlah anak putus sekolah di seluruh dunia menurun hingga setengahnya. Tingkat melek aksara mengalami peningkatan yang dramatis, dan jumlah anak perempuan yang mengenyam pendidikan belum pernah setinggi saat ini. Semua ini adalah kesuksesan yang luar biasa.

Namun kemajuan ini bukan tanpa tantangan terutama di wilayah berkembang akibat tingginya tingkat kemiskinan, konflik bersenjata dan hal-hal darurat lainnya. Di Asia Barat dan Afrika Utara, konflik bersenjata yang masih berlangsung berakibat pada meningkatnya jumlah anak putus sekolah. Ini adalah tren yang mengkhawatirkan. Sementara Afrika sub-Sahara mengalami kemajuan paling besar dalam keikutsertaan pendidikan dasar di antara wilayah berkembang lainnya—dari 52 persen pada 1990, meningkat jadi 78 persen pada 2012—kesenjangan lain masih terjadi. Anak-anak dari keluarga termiskin memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk putus sekolah dibanding mereka yang berasal dari keluarga berada. Dan kesenjangan antara daerah pedesaan dan perkotaan juga masih tinggi.

Meraih pendidikan berkualitas dan inklusif untuk semua menegaskan kembali keyakinan bahwa pendidikan adalah salah satu alat paling kuat dan terbukti bagi berlangsungnya pembangunan berkelanjutan. Tujuan ini memastikan semua anak perempuan dan laki-laki bisa menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah bebas biaya pada tahun 2030. Selain itu, tujuan ini juga menargetkan penyediaan akses pada pelatihan kejuruan yang terjangkau, serta menghilangkan kesenjangan gender dan kekayaan, demi mencapai akses universal pada pendidikan tinggi berkualitas.

Pendidikan berkualitas adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Meraih kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan dan anak-anak perempuan

Pemberdayaan perempuan dan mendorong kesetaraan gender sangat penting untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak perempuan bukan hanya soal hak asasi manusia, tapi ini juga memiliki efek berlipat ganda pada area pembangunan lainnya.

Sejak tahun 2000, UNDP bersama mitra PBB dan komunitas global telah menjadikan kesetaraan gender sebagai bagian utama dalam kerja kami, dan kami telah mencapai kesuksesan luar biasa. Dibandingkan 15 tahun lalu, kini ada lebih banyak anak perempuan yang bersekolah, dan sebagian besar wilayah telah meraih keseimbangan gender dalam pendidikan dasar. Saat ini perempuan menempati 41 persen bidang pekerjaan di luar pertanian, dibandingkan pada tahun 1990 yang hanya 35 persen.

SDGs berusaha meneruskan pencapaian ini untuk memastikan agar diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan di seluruh tempat bisa dihentikan. Di beberapa wilayah, masih ada kesenjangan dalam hal gaji di tempat bekerja, dan masih ada perbedaan yang signifikan dalam hal lapangan pekerjaan antara perempuan dan laki-laki. Masih banyak rintangan besar yang harus dihadapi, termasuk kekerasan seksual dan eksploitasi, pembagian tidak merata dalam hal pengurusan keluarga dan pekerjaan rumah tangga, serta diskriminasi dalam pembuatan keputusan publik.

Memastikan adanya akses universal akan kesehatan seks dan reproduksi, dan membuat perempuan mampu mendapatkan hak-hak setara untuk memiliki sumber ekonomi seperti rumah dan tanah, adalah target vital untuk mewujudkan tujuan ini. Saat ini perempuan yang menempati jabatan publik jumlahnya lebih banyak dibandingkan sebelumnya, tapi mendorong adanya kepemimpinan perempuan di seluruh wilayah akan membantu memperkuat kebijakan dan legislasi untuk kesetaraan gender yang lebih baik.

Kesetaraan gender adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Memastikan akses pada air bersih dan sanitasi untuk semua

Kelangkaan air berdampak pada lebih dari 40 persen orang di seluruh dunia, ini adalah angka yang mengkhawatirkan dan diduga akan terus bertambah seiring dengan naiknya suhu global sebagai konsekuensi dari perubahan iklim. Meskipun 2,1 miliar orang telah mendapatkan akses pada sanitasi air yang lebih baik sejak 1990, berkurangnya pasokan air yang aman dikonsumsi adalah masalah besar yang mempengaruhi seluruh bagian dunia.

Pada 2011, 41 negara mengalami krisis air, 10 di antaranya nyaris kehabisan pasokan air tawar yang bisa diperbarui dan kini harus bergantung pada sumber-sumber non-konvensional. Musim kemarau yang semakin panjang dan bertambahnya lahan yang berubah menjadi gurun telah memperburuk kondisi ini. 

Pada 2050, diperkirakan bahwa setidaknya satu di antara empat orang kemungkinan besar akan terdampak oleh kekurangan air yang berulang.

Memastikan adanya akses universal pada sumber air yang aman dan terjangkau pada 2030 membutuhkan langkah kita untuk berinvestasi pada infrastruktur yang memadai, menyediakan fasilitas sanitasi, dan mendorong usaha kesehatan dan kebersihan pada setiap level. Melindungi dan memperbaiki ekosistem yang berhubungan dengan air seperti hutan, gunung, rawa dan sungai, menjadi sangat penting jika kita ingin mengurangi kelangkaan air. Kerja sama internasional juga dibutuhkan untuk mendorong efisiensi penggunaan air dan mendukung teknologi perawatan air di negara-negara berkembang.

Akses universal pada air bersih dan sanitasi adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Memastikan akses pada energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern

Antara tahun 1990 hingga 2010, jumlah orang yang bisa mengakses listrik telah bertambah hingga 1,7 miliar, dan seiring dengan bertambahnya populasi global, kebutuhan akan energi yang murah juga terus naik. Ketergantungan ekonomi global pada sumber energi minyak bumi dan meningkatnya buangan gas rumah kaca menciptakan perubahan drastis pada sistem iklim kita. Dan ini menimbulkan dampak yang jelas di seluruh dunia.

Meskipun demikian, muncul gerakan baru yang mendorong penggunaan sumber-sumber energi alternatif, dan pada 2011 energi terbarukan digunakan untuk lebih dari 20 persen energi yang dihasilkan secara global. Namun, satu di antara lima orang di dunia masih kekurangan akses pada listrik, dan seiring dengan bertambahnya kebutuhan, maka perlu ada peningkatan substansial produksi energi terbarukan di seluruh dunia.

Memastikan akses universal pada listrik yang terjangkau pada 2030 berarti kita harus berinvestasi dalam sumber-sumber energi bersih seperti matahari, angin, dan panas bumi. Memberlakukan standar yang efektif dari segi biaya untuk teknologi dengan daya jangkau yang lebih luas juga bisa mengurangi konsumsi listrik bangunan dan industri hingga 14 persen. Ini artinya bisa mengurangi pembangunan kira-kira 1.300 pembangkit listrik ukuran sedang. Mengembangkan infrastruktur dan meningkatkan mutu teknologi yang menyediakan sumber energi bersih di seluruh negara berkembang adalah target penting yang bisa mendorong pertumbuhan dan penyelamatan lingkungan.

Energi berkelanjutan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua

Meskipun terkena dampak panjang krisis ekonomi pada 2008/2009, dalam 25 tahun terakhir ini jumlah pekerja yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah berkurang secara dramatis. Di negara-negara berkembang, lebih dari 34 persen jumlah pekerja terdiri dari kelas menengah, hampir tiga kali lipat dari jumlah pekerja pada tahun 1991 hingga 2015.

Tetapi, seiring dengan pemulihan ekonomi global kita juga melihat pertumbuhan yang melambat, kesenjangan yang meluas dan penambahan lapangan pekerjaan yang tidak cukup cepat untuk menyusul pertambahan jumlah tenaga kerja. Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), lebih dari 204 juta orang adalah pengangguran pada tahun 2015.

SDG berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan mencapai produktivitas lebih tinggi serta melalui inovasi teknologi. Mempromosikan kebijakan yang mendorong kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja adalah kuncinya, dan ini juga adalah cara efektif untuk menghentikan kerja paksa, perbudakan, dan perdagangan manusia. Dengan target-target tersebut, diharapkan tujuan untuk meraih ketenagakerjaan penuh dan produktif serta pekerjaan layak bagi semua orang bisa dicapai pada 2030.

Pekerjaan layak adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Membangun infrastruktur kuat, mempromosikan industrialisasi berkelanjutan dan mendorong inovasi

Investasi berkelanjutan dalam infratruktur dan inovasi adalah penggerak penting pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Saat ini lebih dari setengah populasi dunia tinggal di perkotaan, karena itu transportasi massal dan energi terbarukan menjadi sangat penting, begitu juga dengan pertumbuhan industri baru serta teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan teknologi juga adalah kunci untuk menemukan solusi jangka panjang bagi tantangan ekonomi dan lingkungan, seperti menyediakan lapangan pekerjaan baru dan mendorong efisiensi energi. Mempromosikan industri berkelanjutan serta berinvestasi dalam penelitian ilmiah dan inovasi adalah cara-cara penting untuk memfasilitasi pembangunan berkelanjutan.

Lebih dari 4 miliar orang masih belum memiliki akses Internet, dan 90 persen-nya berada di negara-negara berkembang. Menjembatani jurang digital ini sangatlah penting untuk memastikan kesetaraan akses pada informasi dan pengetahuan, dan hasilnya nanti adalah mendorong inovasi dan kewirausahaan.

Investasi pada infrastruktur dan inovasi adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara

Sudah diketahui bahwa kesenjangan pendapatan sedang mengalami kenaikan, 10 persen orang-orang terkaya menguasai 40 persen dari total pendapatan global. Di lain pihak, 10 persen orang-orang termiskin hanya mendapat antara 2 sampai 7 persen dari total pendapatan global. Di negara-negara berkembang, kesenjangan ini telah meningkat sebanyak 11 persen jika kita menghitung berdasarkan pertumbuhan populasi.

Perbedaan yang semakin lebar adalah seruan untuk bertindak yang membutuhkan adopsi kebijakan-kebijakan tepat untuk memberdayakan peraih pendapatan pada persentase terbawah dan mendorong inklusi ekonomi untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras atau etnis.

Kesenjangan pendapatan adalah masalah global yang membutuhkan solusi global. Hal ini melibatkan perbaikan aturan, pengawasan pasar dan institusi finansial, serta mendorong bantuan pembangunan dan investasi asing secara langsung pada wilayah-wilayah yang paling membutuhkan. Memfasilitasi perpindahan dan pergerakan penduduk yang aman juga menjadi kunci untuk menjembatani perbedaan yang semakin lebar.

Mengurangi kesenjangan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan

Lebih dari setengah populasi dunia kini tinggal di wilayah perkotaan. Pada tahun 2050, angka tersebut akan naik menjadi 6,5 miliar orang, dua per tiga dari jumlah penduduk dunia. Pembangunan berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa perubahan signifikan dalam cara kita membangun dan mengatur wilayah perkotaan.

Pertumbuhan kota-kota yang sangat cepat di negara berkembang, ditambah dengan meningkatnya urbanisasi, mengakibatkan terjadinya ledakan jumlah megapolitan. Pada 1990, terdapat sepuluh megapolitan dengan jumlah penduduk 10 juta atau lebih. Pada 2014, ada 28 megapolitan yang merupakan rumah bagi sekitar 453 juta orang.

Kemiskinan ekstrem seringkali terpusat di wilayah perkotaan, dan pemerintahan nasional serta kota berjuang keras mengakomodasi pertambahan populasi di wilayah-wilayah ini. Menciptakan kota yang aman dan berkelanjutan berarti memastikan akses pada perumahan yang aman dan terjangkau, serta memperbaiki pemukiman kumuh. Ini juga melibatkan investasi pada transportasi umum, menciptakan ruang hijau bagi publik, dan meningkatkan perencanaan dan pengaturan perkotaan yang inklusif sekaligus melibatkan semua pihak.

Kehidupan kota yang berkelanjutan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan

Meraih pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan berarti kita harus menyadari pentingnya pengurangan jejak ekologi dengan mengubah cara kita memproduksi dan mengkonsumsi makanan dan sumber daya lainnya. Pertanian adalah pengguna air terbesar di seluruh dunia, dan saat ini irigasi mengambil sekitar 70 persen penggunaan air bersih yang layak digunakan manusia.

Pengelolaan efisien dalam penggunaan sumber daya alam milik bersama, dan cara kita membuang sampah beracun dan polutan adalah target penting untuk meraih tujuan ini. Selain itu mendorong industri, bisnis, dan konsumen untuk mendaur ulang dan mengurangi sampah sama pentingnya, seperti halnya juga mendukung negara-negara berkembang untuk bergerak menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan pada 2030.

Masih banyak penduduk dunia yang bahkan konsumsi kebutuhan dasarnya pun belum bisa dikatakan layak. Mengurangi sisa makanan perkapita global dari pedagang dan konsumen hingga setengahnya juga penting untuk menciptakan produksi dan rantai pasokan yang lebih efisien. Ini bisa membantu menjaga ketahanan pangan dan membawa kita menuju ekonomi dengan sumber daya efisien.

Produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya

Tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak mengalami dampak dramatis secara langsung dari perubahan iklim. Buangan gas rumah kaca terus meningkat, dan saat ini levelnya berada pada 50 persen lebih tinggi dibandingkan pada tahun 1990. Lebih jauh lagi, pemanasan global mengakibatkan perubahan berkepanjangan pada sistem iklim kita, dan konsekuensi yang terjadi tidak akan bisa diubah kecuali kita melakukan tindakan.

Kerugian rata-rata tahunan akibat gempa bumi, tsunami, badai tropis dan banjir terhitung sekitar ratusan miliar dolar, dan ini membutuhkan investasi sebesar US$6 miliar per tahun untuk biaya pengelolaan risiko bencana saja. Tujuan ini berusaha mengumpulkan US$100 miliar per tahun pada 2020 untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang dan membantu mengurangi bencana akibat perubahan iklim.

Memperkuat kegigihan dan kapasitas adaptasi wilayah-wilayah yang lebih rentan, seperti negara-negara di tengah benua dan negara kepulauan, harus berjalan beriringan dengan usaha meningkatkan kesadaran dan memasukkan langkah-langkahnya pada kebijakan dan strategi nasional. Dengan adanya kehendak politik dan penggunaan langkah teknologi secara luas, masih mungkin bagi kita untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata secara global pada dua derajat Celcius di atas level masa pra-industri. Ini membutuhkan tindakan bersama dengan segera.

Menyadari perubahan iklim adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Pelindungan dan penggunaan samudera, laut dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan

Samudera dunia - suhu, unsur kimia, arus, dan kehidupan di dalamnya—adalah penggerak sistem global yang membuat Bumi bisa dihuni oleh manusia. Cara kita mengelola sumber daya vital ini sangat penting bagi kehidupan manusia secara keseluruhan, dan untuk mengimbangi dampak dari perubahan iklim.

Lebih dari 3 miliar orang menggantungkan mata pencaharian pada laut dan keanekaragaman hayati pantai. Tetapi saat ini kita melihat bahwa 30 persen simpanan ikan dunia mengalami eksploitasi berlebih, jauh di bawah level di mana mereka bisa memproduksi hasil yang berkelanjutan. Samudera juga menyerap sekitar 30 persen karbon dioksida yang dihasilkan manusia, dan kita melihat kenaikan pengasaman samudera hingga 26 persen sejak dimulainya revolusi industri. Polusi laut yang mayoritas bersumber dari darat telah mencapai level yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata 13.000 bagian sampah plastik ditemukan di setiap kilometer persegi lautan.

SDG menciptakan kerangka kerja berkelanjutan untuk mengatur dan melindungi ekosistem laut dan pantai dari polusi yang berasal dari darat, juga untuk menyadarkan akan dampak pengasaman samudera. Memperkuat pelindungan dan penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan melalui hukum internasional juga akan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi samudera kita.

Melindungi lautan kita adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahan lahan menjadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati

Kehidupan manusia bergantung pada tanah sama seperti kita bergantung pada laut untuk bahan makanan dan mata pencaharian. Tumbuhan menyediakan 80 persen bahan makanan untuk manusia, dan kita bergantung pada pertanian sebagai sumber penting perekonomian dan alat pembangunan. Hutan meliputi 30 persen permukaan bumi, dan merupakan habitat bagi jutaan spesies serta menjadi sumber air dan udara bersih, dan juga sangat penting untuk melawan perubahan iklim.

Belum pernah kita melihat penurunan kualitas tanah seperti saat ini, dan hilangnya tanah yang bisa ditanami mencapai 30 hingga 35 kali jumlah rata-rata dalam sejarah. Kemarau panjang dan perubahan lahan menjadi gurun juga meningkat tiap tahun, mencapai 12 juta hektar dan memengaruhi komunitas miskin di seluruh dunia. Dari 8.300 hewan yang diketahui, 8 persen telah punah dan 22 persen berada di ambang kepunahan.

SDG berusaha melindungi dan memperbaiki penggunaan ekosistem darat seperti hutan, rawa, lahan dan gunung pada 2020. Mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan menghentikan penebangan hutan juga sangat penting untuk menghentikan dampak perubahan iklim. Harus segera dilakukan tindakan untuk mengurangi hilangnya habitat alami dan keanekaragaman hayati yang merupakan bagian dari warisan kita bersama.

Melindungi hutan dan ekosistem lainnya adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif

Perdamaian, stabilitas, hak-hak asasi manusia dan pemerintahan efektif berdasarkan aturan hukum adalah jalur pentimg menuju pembangunan berkelanjutan. Kita hidup di dunia yang semakin terbagi-bagi. Beberapa wilayah menikmati perdamaian yang berkelanjutan, keamanan dan kemakmuran, sementara wilayah lain tampak terus-menerus berada dalam lingkaran konflik dan kekerasan. Kondisi ini tidak bisa dihindari dan harus diketahui.

Tingginya kekerasan bersenjata dan rasa tidak aman memiliki dampak merusak pada pembangunan negara, memengaruhi pertumbuhan ekonomi, dan seringkali menimbulkan rasa dendam di antara komunitas yang bisa berlangsung hingga beberapa generasi. Kekerasan seksual, tindak kejahatan, eksploitasi dan penyiksaan juga sering terjadi dalam kondisi konflik atau jika tidak ada hukum yang mengatur, dan negara harus mengambil tindakan untuk melindungi mereka yang berada dalam risiko.

SDG berusaha mengurangi segala bentuk kekerasan secara signifikan, dan bekerja dengan pemerintah dan komunitas untuk menemukan solusi jangka panjang menghadapi konflik dan rasa tidak aman. Memperkuat aturan hukum dan mempromosikan hak-hak asasi manusia adalah kunci untuk berjalannya proses ini, selain juga mengurangi peredaran senjata ilegal dan memperkuat partisipasi negara-negara berkembang dalam institusi dan pemerintahan global.

Mendorong perdamaian dan keadilan adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.


Menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan

SDG hanya bisa terwujud dengan komitmen kuat pada kemitraan dan kerja sama global. Meskipun bantuan pembangunan resmi dari negara-negara maju meningkat hingga 66 persen antara tahun 2000 sampai 2014, krisis kemanusiaan akibat konflik dan bencana alam terus menuntut bantuan dan sumber-sumber finansial. Banyak negara yang juga meminta bantuan pembangunan resmi untuk meningkatkan pertumbuhan dan perdagangan.

Tidak pernah dunia terhubung lebih baik daripada saat ini. Memperbaiki akses pada teknologi dan pengetahuan adalah cara penting untuk berbagi ide dan mendorong inovasi. Perlu diberlakukan kebijakan yang terkoordinasi untuk membantu negara-negara berkembang mengelola utang mereka, juga mendorong investasi di negara yang tertinggal karena itu semua sangat vital untuk meraih pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan.

Tujuan ini membidik penguatan kerjasama Utara-Selatan dan Selatan-Selatan dengan mendukung rencana nasional untuk meraih target. Mendorong perdagangan internasional dan membantu negara-negara berkembang meningkatkan ekspor mereka, adalah bagian dari upaya meraih sistem perdagangan yang berdasar aturan universal dan tepat yang terbuka, adil dan menguntungkan semua pihak.

Memperkuat solidaritas global adalah satu dari 17 Tujuan Global yang tersusun dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dan pendekatan terpadu sangat penting demi kemajuan di seluruh tujuan.