Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Mengenal Lebih Dekat Dasawarsa (2005-2015) Education Sustainable Development (ESD)

Octo RiantoMengenal Lebih Dekat Dasawarsa (2005-2015) Education Sustainable Development (ESD) Education for Sustainable Development (EfSD) pertama kali dicetuskan oleh Hans J. A. Van Ginkel, mantan rektor United Nations (UN) University dan Staf Ahli Sekjen UN. EfSD istilah aslinya adalah Education Sustainable Development atau di singkat ESD minus for. Mengapa di Indonesia ditambah dengan for?

For artinya untuk. Kata untuk berarti menghasilkan sesuatu, ada tujuan yang ingin dicapai. Untuk menghasilkan sesuatu atau mencapai tujuan, harus ada tindakan (action).

Sedangkan development diterjemahkan pengembangan bukan pembangunan, karena pembangunan sering dimaknai pembangunan fisik atau infrastruktur. Pengembangan berkelanjutan (sustainable development) adalah sebuah perubahan, perkembangan atau pengembangan meliputi kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan secara simultan, berkesinambungan sehingga menghasilkan kondisi tentram, aman, nyaman baik dimasa sekarang maupun yang akan datang. Pengembangan berkelanjutan diartikan sebagai pengembangan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa menghilangkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Pengertian tersebut mengandung pesan moral untuk memperbaiki kehidupan manusia masa kini dan mendatang tanpa mempertinggi pemakaian sumber daya alam melebihi daya dukung bumi. Tantangan kita ke depan adalah meningkatnya standar hidup.

Definisi ESD menurut UNESCO adalah “proses belajar (atau pendekatan pengajaran) berdasarkan cita-cita dan prinsip-prinsip yang mendasari keberlanjutan dan berkaitan dengan semua tingkat dan jenis pembelajaran untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas dan mendorong pembangunan manusia yang berkelanjutan – belajar mengetahui, belajar menjadi, belajar untuk hidup bersama, belajar untuk melakukan dan belajar untuk mengubah diri sendiri dan masyarakat. “ESD adalah visi pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat untuk memikul tanggung jawab untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Pesan penting ESD adalah konsep budaya sebagai dasar tema penting. Telah diakui bahwa tidak ada “satu rute” untuk pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya, adalah koheren yang pemahaman dan visi untuk keberlanjutan akan berbeda untuk setiap orang dan bahwa kita perlu bekerja sama untuk menegosiasikan proses pencapaian keberlanjutan.

Ada banyak pemangku kepentingan dalam pembangunan berkelanjutan (yaitu, pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, media, pemuda, dll). Masing-masing sektor memiliki visi yang berbeda pembangunan berkelanjutan dan bagaimana ia dapat berkontribusi. Beberapa tertarik pada pelestarian lingkungan dan perlindungan, beberapa memiliki kepentingan pembangunan ekonomi sementara yang lain mungkin lebih tertarik dalam pembangunan sosial. Selain itu, bagaimana masing-masing negara, kelompok budaya dan individu pemandangan pembangunan berkelanjutan akan tergantung pada nilai-nilainya sendiri. Nilai-nilai yang diadakan di masyarakat membantu menentukan bagaimana keputusan pribadi yang dibuat dan bagaimana perundang-undangan nasional yang tertulis.

Tantangannya adalah untuk membawa pemangku kepentingan bersama-sama sehingga mereka dapat bekerja sama dalam kemitraan untuk menemukan keseimbangan antara kepentingan dan prioritas mereka. Berbagai pendekatan untuk ESD mendorong orang untuk memahami kompleksitas dan sinergi antara isu mengancam keberlanjutan planet, dan memahami dan menilai nilai-nilai mereka sendiri dan orang-orang dari masyarakat di mana mereka tinggal, dalam konteks keberlanjutan.

Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development, ESD), menjadi isu mutakhir di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal dan informal.

Dasawarsa ESD

Pada 1 Maret 2005, Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura meluncurkan Dasawarsa ESD PBB (DESD) di New York. Dalam peluncuran itu, Matsuura menyatakan:  

“Tujuan akhir Dasawarsa ini ialah bahwa pendidikan pembangunan berkelanjutan haruslah menjadi lebih daripada sekedar sebuah semboyan. Ia harus merupakan kenyataan konkret bagi kita semua – perorangan, organisasi, pemerintahan- dalam segala keputusan dan tindakan harian kita, sehingga terpenuhilah janji adanya sebuah planet yang berkelanjutan dan dunia yang lebih aman bagi anak, cucu, dan keturunan mereka. Para pelaku utama pembangunan berkelanjutan haruslah menempatkan peran mereka dalam pendidikan anak-anak, pendidikan tinggi, pendidikan nonformal dan dalam kegiatan pembelajaran berbasis masyarakat. Ini berarti pendidikan haruslah berubah sehingga ia mampu menanggapi masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup yang kita hadapi dalam Abad ke-21.”

Visi dasar Dasawarsa ESD ialah sebuah dunia di mana semua orang memiliki kesempatan memperoleh keuntungan dari pendidikan bagi transformasi masyarakat. Salah satu sasaran Dasawarsa ESD ialah untuk mengembangkan strategi-strategi di setiap tingkat untuk memperkuat kapasitas dalam ESD. Dasawarsa ESD memperkokoh prakarsa PBB lain yang sedang berjalan, khususnya gerakan Pendidikan untuk Semua (Education for All, EFA) dan Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals, MDG). Pasal 36 Agenda 21 menggarisbawahi perlunya reorientasi pendidikan menuju pembangunan berkelanjutan. Seruan itu mencakup semua aliran pendidikan formal dan nonformal dan semua isu kunci sehubungan dengan pendidikan untuk pembangunan manusia berkelanjutan. Sebagian besar masalah lingkungan hidup kita berakar dari kurangnya pendidikan kita tentang lingkungan hidup dan tentang cara-cara menuju perikehidupan yang berkelanjutan. Arti penting pendidikan untuk memajukan pembangunan berkelanjutan ditegaskan kembali di Johannesburg. Arti penting itu memperoleh makna isi Desember 2002 ketika Sidang ke-58 Majelis Umum PBB menyetujui resolusi untuk mencanangkan Dasawarsa Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan PBB mulai 2005.

Resolusi itu menunjuk Organisasi Pendidkan, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) sebagai lembaga pelaksana utama Dasawarsa ESD. UNESCO telah bekerjasama secara erat bersama para mitranya termasuk dengan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Universitas PBB (UNU). 

Beberapa dasar Dasawarsa ESD adalah kemitraan, kepemilikan, dan kepemimpinan. Kemitraan ialah kerjasama dan seruan terwujudnya jejaring antarperorangan dan lembaga dengan latar berbeda guna memprakarsai dan melaksanakan ESD`secara berhasil. Kepemilikan menggarisbawahi kenyataan bahwa ESD milik semua karena menyentuh semua orang di masa kini dan mendatang. Kepemimpinan di semua tingkat dan semua bidang merupakan penggerak untuk memobilisasi orang, mengubah pola pikir mereka dan untuk menghasilkan karya-karya berarti.  

Koordinator Nasional ESD, Retno S. Sudibyo, dalam berbagai kesempatan menyosialisasikan agar muatan ESD terintegrasi dalam pembelajaran di persekolahan mulai dari Taman Kanak Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT). Begitu pula dalam Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) yang di mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Keseteraan Paket A, B dan C, berbagai Kursus Ketrampilan, Keaksaraan Fungsional, pemberdayaan perempuan dan gender, dan berbagai program pendidikan kecakapan hidup lainnya. 

Strategi Implementasi ESD dalam PNFI 

Bagaimana implementasi ESD dalam perspektif PNFI? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan baik secara kelembagaan, kolektif maupun individu: 

  • Dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah. 
  • Pengembangan kapasitas SDM melalui diklat, orientasi dan sosialisasi EfSD bagi pendidik dan tenaga kependidikan PNFI. 
  • Pengembangan program-program PNFI berwawasan ESD. 

Jadikan muatan ESD sebagai bagian tak terpisahkan dari penyelenggaraan program PNFI. ESD bukan mata pelajaran baru yang harus diujikan atau dinilai, melainkan sebuah paradigma baru dalam pendidikan yang harus disisipkan dalam dalam program pembelajaran secara terintegrasi. Penanaman nilai-nilai ESD dilakukan secara terintegrasi (integrated learning) dengan program PNFI baik yang sifatnya berjenjang maupun yang tidak berjenjang. Program PNFI yang berjenjang seperti PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Sedangkan program PNFI yang tidak berjenjang seperti Keaksaraan Fungsional, berbagai macam kursus ketrampilan, pemberdayaan perempuan dan gender, Taman Bacaan Masyarakat, Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP) serta berbagai program pendidikan kecakapan hidup lainnya baik berspektrum pedesaan maupun perkotaan seperti Kursus Wirausaha Desa (KWD), Kursus Wira Usaha Kota (KWK) dan Kursus Para Profesi (KPP). 

Penutup 

Melalui pendidikan baik formal, non-formal maupun informal, mari kita lakukan apa yang bisa kita kontribusikan untuk mewujudkan kondisi kehidupan yang lebih baik untuk pengembangan berkelanjutan. Sekecil apapun kontribusi yang bisa kita berikan, akan berharga bagi permasalahan lingkungan termasuk pemanasan global (global warming). Potensi kerusakan yang begitu dahsyat akibat pemanasan global memerlukan tindakan pencegahan secara global pula. (Octo Rianto)