Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Meraup untung di lahan kritis

Sekitar 252,37 hektar luas penambangan pasir yang ada di kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, sebagian besar terbengkalai hingga menjadi hamparan padang pasir tanpa penghuni.

Namun sejak tahun 1986, Uha Juhaeri mulai mengelola lahan kritis tersebut hingga sekarang dia bisa memanen buah naga yang berlimpah sebagai hasil kerja kerasnya. Pesanan akan buah naga ini akan melimpah pada hari-hari besar seperti perayaan imlek dan sebagainya.

Awalnya Pak Uha, begitu masyarakat memanggilnya, hanya menanam tanaman yang bisa tumbuh di lahan kritis seperti pasir maupun kerikil, seperti tanaman cebreng. Dengan adanya tanaman tersebut (cebreng-red), lahan seluas 3 hektar itu menjadi sangat subur dan hijau. Hal ini tentu memerlukan usaha yang gigih, pada awalnya pak Uha berjuang untuk mengubah lahan yang kritis bekas galian C yang tidak direklamasi menjadi sebuah ladang hijau yang bisa berproduksi. Galian C adalah bahan tambang yang biasanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Baik bangunan pribadi, swasta maupun pemerintah. Salah satu contoh kongkrit galian C yang berasal dari sungai adalah batu, koral, serta pasir sungai. Dapat dibayangkan bagaimana dampak dari galian C tersebut terhadap kondisi tanah di sekitar perkebunan ini.

Mulai dari pencemaran lingkungan akibat dari percampuran material di dalam tanah, kebisingan dari mesin-mesin penggali, hingga kerusakan infrastruktur jalan sejak dilalui oleh kendaraan berat pengangkut bahan galian. Sebagian besar masyarakat di desa Cibeureum ini banyak yang pasrah bahkan berinisiatif untuk berpindah tempat tinggal ke desa yang jauh dari lokasi ini. Tentu ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mengingat sudah banyak kerugian yang ditanggung oleh masyarakat.

Usaha dan kerja keras pak Uha ini tidak sia-sia. Pada tahun 2006 atau tepatnya 20 tahun setelah upaya awalnya dimulai, dia mendapatkan investor untuk menanam buah naga. Awalnya pak Uha tidak begitu yakin karena sebelumnya, di daerah tersebut belum pernah ada yang mengenal tanaman itu. Belum lagi dirinya masih dibayangi oleh anggapan orang lain yang menganggap usaha reklamasi pak Uha merupakan hal yang mustahil karena lahan tersebut adalah lahan yang sangat kritis sebelumnya. Namun dia tetap bersikukuh untuk menanam buah naga karena merasa buah ini merupakan sebuah peluang yang bias menghasilkan.

Awalnya, buah naga ditanam dengan jumlah 180 tanaman. Harga benihnya pun saat itu sangat-lah mahal, yakni lebih dari 250 ribu rupiah per-benihnya. Harga benih ini awalnya membuat pak Uha sedikit terkejut, namun tekadnya sudah bulat untuk tetap melanjutkan penanaman, di samping dengan modal yang ia terima dari investor meskipun hanya bias untuk menutupi 50 persen dari total kebutuhan modal.

Ternyata mahalnya harga benih buah naga tersebut seimbang dengan apa yang dihasilkan. Tanaman ini masih sangat langka dan bisa berumur sangat panjang. Selain itu meski tidak banyak, peminat buah naga sangat loyal. Sebagai bukti, setelah menginjak tahun keempat, pak Uha bisa memproduksi sekitar 3 kilo buah naga per-pohonnya. Khusus untuk perayaan-perayaan tertentu seperti tahun baru imlek, dari total 3 hektar lahan buah naga yang produktif menghasilkan lebih dari 4 ton buah naga siap jual. Seluruh produksi tahun ini atau tepatnya saat imlek tempo hari, buah naga produksi pak Uha didistribusikan seluruhnya untuk kebutuhan di Jawa Barat. “Untuk produksi tahun ini sebetulnya tidak mencukupi kebutuhan, hal ini disebabkan produksi buah naga di kebun di Semarang berkurang, sehingga produksi Sumedang sudah pasti menjadi pilihan utama” Ujar pak Uha.

Buah naga yang ditanam di perkebunan ini merupakan buah naga dengan jenis varian merah. Menurut pak Uha, untuk di Indonesia, jenis buah naga varian merah ini hanya diproduksi di daerah Sumedang. Harga yang dipatok bisa mencapai 40 ribu rupiah per-kilonya. Buah naga ini merupakan jenis tanaman kaktus yang bisa hidup di lahan cuaca ekstrim seperti di Cimalaka ini. Memang cuaca di wilayah bekas galian ini akan mengalami perubahan yang drastis dari siang ke malam harinya. Namun, bukan berarti tanaman ini bisa ditanam begitu saja tanpa perawatan berarti. Selayaknya tanaman lain, tanaman buah naga juga membutuhkan pupuk sebagai pakannya. Untuk suplai pupuknya, pak Uha sengaja membuat kandang ternak yang dibuat saluran khusus pembuangan kotoran dan air seni ternak untuk dijadikan pupuk organik. Hal ini merupakan ciri sebuah kemandirian seorang pengusaha yang bisa memanfaatkan apa yang bisa menjadikan nilai lebih.

Keberhasilan pak Uha ini juga ditularkan kepada warga sekitar. Kini para warga di bawah bimbingan pak Uha mulai menggarap lahan kritis yang sudah kembali hijau dengan tanaman buah naga ini. Sayangnya masih banyak lahan bekas galian terlantar tanpa reklamasi yang berarti. Belum lagi, aktivitas penambangan pasir yang beberapa waktu lalu sempat ditutup, kini kembali beroperasi sehingga mengancam debit air untuk suplai ke perkebunan buah naga yang ada di desa Cibeureum ini. Padahal saat ini warga sudah siap untuk ikut mengelola lahan kritis tersebut menjadi lahan yang kembali subur. [DA/kabarukm.com]