Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Prinsip lapisan pakaian untuk pendakian

Lapisan jenis pakaian yang sangat dibutuhkan dalam sebuah perjalanan pendakian gunung adalah yang mampu memberikan perlindungan kepada kita dari suhu dan cuaca daerah pegunungan serta membuat kita tetap kering dan hangat. Saat ini sudah banyak sekali pakaian yang terbuat dari bahan yang memang diciptakan untuk kegiatan pendakian gunung. Namun, hal terpenting dalam pemilihan pakaian adalah mampu memberikan siolasi dari udara dingin dan memberikan perlindungan dari panas serta kelembapan.

Selain itu, pakaian harus mampu mencegah terjadinya rasa panas dan keringat yang berlebihan serta mampu memberikan keleluasaan dalam bergerak. Ada bahan yang memberikan isolasi yang baik terhadap panas, tetapi tidak mampu menahan udara lembab atau basah. Oleh karena itu, kita juga harus mengenal prinsip pelapisan dalam berpakian pada sebuah pendakian gunung.

Prinsip Lapisan: Lapisan-lapisan yang banyak dari bahan tipis, jauh lebih efektif dari pada sedikit lapisan tebal untuk menyerap udara ke kulit kita yang akan dihangatkan oleh panas tubuh kita. Temperatur tubuh dapat dikontrol dengan menambah atau mengurangi lapisan-lapisan tersebut, serta dengan membuka resleting atau kancing untuk memberikan ventilasi pada baju tersebut. Prinsip lapisan terdiri dari:

Lapisan dasar: Lapisan dasar adalah yang melekat langsung pada kulit, atau pakaian dalam. Kini ada sebutan untuk salah satu jenis bahan pakaian dalam yaitu thermal underwear. Hal yang penting dari lapisan pertama ini adalah untuk menjaga agar kulit tetap kering, bukan menjaga panas. Hindari memakai pakaian dalam yang terbuat dari katun karena bahan itu jika basah susah sekali kering, apalagi di gunung yang selalu beriklim lembab.

Lapisan kedua: Lapisan kedua merupakan lapisan yang berhadapan dengan uap lepas (berair atau lembab) dari badan yang dibawa keluar lapisan dasar. Jadi, lapisan kedua ini harus mampu melepaskan uap tersebut tanpa mengurangi daya isolasi kehangatannya. Lapisan kedua tersebut adalah pakaian yang biasa dipakai untuk jalan seperti T-shirt dan celana pendek atau celana panjang yang terbuat dari bahan gabungan antara nilon dan polyester. Banyak pakaian yang difungsikan sebagai pakaian untuk trekking yang dibuat dari bahan ini. Untuk iklim pegunungan Indonesia sendiri yang tidak terlalu dingin, bahan katun tipis juga bisa dipakai. Namun, apabila basah, maka pakaian itu harus dilepas.

Lapisan ketiga: Lapisan ketiga berfungsi sebagai penghangat dan biasanya dipakai saat berhenti atau saat berada di basecamp. Bahan yang cocok adalah seperti pile atau fleece. Selain ringan, bahan itu bahkan mampu memberikan kehangatan dalam keadaan lembab sekalipun. Jaket dan celana dari pile atau fleece akan memberikan kehangatan bagi tubuh kita, tetapi tidak bisa bertahan terhadap serangan angin dingin. Untuk itu, kita membutuhkan satu lapisan lagi, yaitu lapisan luar.

Lapisan keempat: Lapisan keempat disebut juga lapisan luar yang menjaga badan terhadap angin dingin yang bertiup cukup kencang saat kita berada di puncak gunung atau saat mendirikan tenda di daerah puncak gunung yang terbuka. Bahan yang cocok untuk lapisan luar ini adalah bahan yang mampu memberikan perlindungan terhadap udara dan angin yang lembab. Jika lapisan ini gagal memberikan perlindungan sebagus apapun lapisan ketiga,kedua serta lapisan utamanya, dalam keadaan basah dan terkena angin tetap saja kita dibuat kedinginan dengan cepat sehingga kita bisa mengalami hyporthermia. Bahan lapisan ini disebut juga shell garment. 

Ada dua tipe shell garment. Pertama adalah windproof. Tipe ini sayangnya tidak waterproof. Tipe kedua memiliki kedua kemampuan diatas, windproof dan waterproof. Satu lagi jenis lain bahan untuk lapisan ketiga ini adalah waterproof breathable garment, atau bahan waterproof yang bernafas. Disebut bernafas karena kemampuannya menahan air dan angin, tetap mampu juga melepaskan uap panas tubuh sehingga membuat tubuh kita tidak basah oleh keringat saat memakainya walaupun ditengah hujan sekalipun. Salah satu contoh bahan ini adalah yang diproduksi oleh merk goretex. Contoh lapisan keempat ini adalah jaket parka gunung. Parka yang terbuat dari bahan tahan air atau bahan bernafas juga bisa dijadikan sebagai rain coats pengganti ponco.

Dengan adanya prinsip pelapisan kita akan dengan mudah sekali mengatur temperatur tubuh secara tepat. Down jacket yang tebal atau sweater wool yang tebal memang memberikan kehangatan pada tubuh kita, tetapi tidak mampu memberikan fleksibilitas dalam pengaturan kehangatan yang diberikan. Prinsip pelapisan ini seperti mengatur suhu sebuah pemanas, bisa mengurangi panasnya dengan mengecilkannya sedikit demi sedikit. Hindari memakai bahan jeans untuk naik gunung karena jika basah bahan tersebut akan susah kering. Selain itu bahan jeans juga mudah sekali menjadi lembab.  

Sumber: sekolahgunung dan disadur dari buku Panduan Teknis Pendakian Gunung-Hendri Agustin