Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Petualangan seru bersepeda di 'Raja Ampat' Kalimantan

Bersepeda ke atas bukit bisa menjadi pilihan liburan seru. Bukit Batas di Banjar, Kalimantan Selatan bisa jadi tempat asyik untuk main sepeda. Rasa lelah saat naik bukit pun akan terbayar dengan pemandangan indah! Nafas Senin Kamisnya mulai terdengar hebat. Semilir angin hutan tidak mampu lagi mengusir keluarnya bulir-bulir keringat. Bajunya kini sudah bukan saja basah, tapi banjir. Namun begitu Ia mencoba terus tetap berjalan. Sementara itu sepeda Comencal andalannya berada disampingnya, dituntun. Demikian juga dua teman saya lainnya. Menggunakan jenis sepeda MTB cros Country untuk tanjakan lurus sepanjang hampir 200an m dengan jalan berkontur tanah liat kering cukup melelahkan. Mengayuh sepeda pada kondisi jalan seperti itu adalah sebuah keniscayaan meski menggunakan gigi teringan dari sepeda terbaik.

Harusnya ada gantole yang membawa kita mudah naik sampai di atas. Teman lain bertanya,"Ini sudah setengah jalan belum, bro?". "Sudah, dikit lagi kok sampai!," jawab saya pendek. Tentu sebuah jawaban yang tujuannya tidak lain hanya untuk memberi semangat. Ada spot baru yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan penggemar traveling di selatan Kalimantan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Banjarmasin. Tempat itu bernama Bukit Batas.

Berjarak sekitar 65 km utara Banjarmasin, Bukit Batas termasuk dalam wilayah Kabupaten Martapura. Sesuai namanya, ia berupa bukit. Kenapa diberi nama Bukit Batas menurut warga karena adanya pagar kawat berduri di sekitar puncak bukit sebagai pembatas hewan ternak. Pembatas berguna agar sapi-sapi tidak keluar area dan terjerembab masuk jurang.

Kalau dilihat dari kejauhan Bukit Batas bentuknya seperti kurva oval. Namun kerennya Bukit Batas bukan dilihat dari situ. Kita harus mendakinya. Menaiki dan berdiri di puncaknya.

Dari puncak itulah akan terlihat keelokan pemandangan yang mengelilingi Bukit Batas. Hamparan pegunungan dan tebaran daratan yang membentuk pulau-pulau di antara luasnya sungai dan air danau terlihat sejauh mata memandang. Inilah kenapa traveler Kalimantan menyebutnya sebagai 'Raja Ampat' Kalimantan.

Layaknya Raja Ampat di Papua, agar sampai di Bukit Batas kita harus menggunakan perahu menuju Pulau Pinus terlebih dahulu. Menyeberangi danau kurang lebih sekitar 30 menit. Selama dalam perahu kami manfaatkan untuk merakit dan mengatur sepeda. Perahu yang berjalan tenang dan perlahan juga seolah memberi waktu dan kesempatan bagi kita menikmati pemandangan alam. Fotogenik pemandangannya. Dari Pulau Pinus barulah kita memulai bersepeda. Kayuhan pertama kami di Pulau Pinus sangatlah asik. Daratan yang dikitari air dipenuhi oleh ratusan pohon pinus menjulang rapat. Adem! Setelah itu kita akan disambut oleh jembatan kayu bercat kuning. Kira-kira memiliki panjang hampir sekitar 1 km dan lebar 1,5 m. Sebuah jembatan kayu tradisional yang fotogenik juga lho!.

Jalan kemudian berbelok kanan menuju perkampungan. Sampai di sini jalan masih berplester selebar 1 m. Selepas keluar perkampungan dan memasuki kebun serta hutan, barulah trek akan berubah menjadi tanah liat kecoklatan berupa jalan setapak tanah. Jalurnya pun mulai menanjak terus benar-benar hampir tidak ada turunan. Tidak sedikit kami menemui tonjolan batu dan akar-akaran pohon melintang di jalur atau potongan ranting. Kiri kanan berisi pepohonan sehinga cukup memberikaan keteduhan.

Di pertengahan jalan, nafas kami mulai terasa pendek dan cepat. Terbalik dengan kayuhan sepeda kami yang mulai melambat dan bahkan benar-benar berhenti karena kelelahan. Sepeda terpaksa kami tuntun. Sementara persediaan air mulai habis. Beruntung sudah terlihat pagar kawat berduri di samping kiri jalan. Ini patokan kalau kami sudah sampai pertengahan jalan. Meskipun menyerah mengayuh, kami tak akan berhenti terus untuk berjalan kaki. Sekitar dua jam perjalanan, barulah kami sampai di puncak Bukit Batas. Puncak bukit berupa tanah lapang terbuka dengan deretan pohon Akasia dan pagar kawat berduri di tengah bukit. Dari sini pemandangan keren yang saya janjikan terbukti. 

Terbayar sudah lelah perjalanan naik. Tidak menyangka, di sini kami menorehkan sejarah. Ini karena menurut penuturan Bapak Damanhuri (penjaga pos basecamp) sebelum ini tidak pernah ada yang naik Bukit Batas menggunakan sepeda. Menggunakan sepeda ke puncak Bukit Batas juga menjanjikan pengalaman seru saat turun bukit. Bayangkan saja, tanjakan yang menguras tenaga saat naik tadi, tentunya kini berganti menjadi turunan yang menegangkan.

Tiga puluh menit bersepada menuruni bukit yang membutuhkan konsentrasi dan keberanian. Namun, saya yakin saja pada rem, stang, tangan dan kayuhan kaki karena keseruan ngebut di turunan Bukit Batas siap membekap kita. Keren! 

Sumber: http://travel.detik.com/read/2014/12/15/153500/2747028/1025/petualangan-seru-bersepeda-di-raja-ampat-kalimantan