Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Serunya mendokumentasikan hidupan liar di sekitar kita

Alam liar memang terlalu luas bila diabadikan lewat imaji gambar. Kehidupan eksotik dari jutaan spesies di jagad ini mungkin masih belum banyak didokumentasikan lewat bidikan kamera. Coba bayangkan dalam sebuah areal alami seperti hutan lindung seluas satu kilometer persegi, sudah tentu dihidupi oleh berbagai macam fauna, padat ditumbuhi flora. Apalagi negeri ini terkenal dengan negara yang disebut megabiodiversity atau negara yang mempunyai tingkat keanegaraman hayati nomer tiga tertinggi di dunia setelah Zaire dan Brazil.

Bagi penggemar fotografi mendokumentasikan sebuah hidupan liar (wildlife) umumnya akan memilih pergi ke gunung atau menelusuri lebatnya rimba. Upaya tersebut tentu saja memerlukan cost yang cukup tinggi. Biaya perjalanan pun akan membengkak bila dilakukan dalam jangka waktu lama. Disamping itu beberapa faktor pendukung juga perlu dipersiapkan seperti kondisi fisik dan mental yang kuat. Pasalnya, memotret flora dan fauna di habitat alaminya tentu harus siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Kondisi alam seringkali tidak bersahabat dan mempunyai resiko yang cukup tinggi.

Keunggulan merekam aktivitas hidupan liar di habitat alaminya akan tergolong foto ekslusif dan mempunyai nilai tinggi. Wajar saja dikatakan demikian, sebagai contoh foto seekor badak jawa bercula satu bisa dikatakan eksklusif dan mahal. Pasalnya sosok hewan langka itu hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten. Untuk mendapatkannya seorang wildlife photography harus merambah hutan berhari-hari lamanya. Hal tersebut belum tentu berjalan dengan lancar,lantaran untuk melihat jejaknya saja sangat sulit apalagi memotretnya.

Namun tak usah kawatir ketika kondisi diri tidak mampu melakukan hal itu. Fotografer hidupan liar umumnya disandang oleh orang yang doyan keluyuran keluar- masuk hutan. Hobi bertualang (adventure) memang sudah menjadi jiwanya dan ditambah dengan minat fotografi yang cukup tinggi.Modalnya operasionalnya juga lumayan besar, termasuk harus memiliki peralatan kamera yang lengkap. Satu hal yang paling penting adalah bekal pengetahuan ilmu alam, terutama kehidupan flora dan fauna serta habitatnya yang harus memadai. Lalu bagaimana dengan para penggemar fotografi yang biaya dan waktunya terbatas? 

Tak usah berkecil hari, untuk melongok kehidupan tumbuhan dan binatang liar sambil mengkoleksi foto-foto wildlife, dapat saja mengunjungi tempat-tempat penangkaran. Hunting foto di kebun binatang, taman bunga atau safary park semacam Taman Safari Indonesia  Cisarua, dapat juga mengobati kesan bertualang di alam liar. Pasalnya beberapa jenis hewan dilepas dengan kandang besar dan di desain mirip habitat sebenarnya. Aktifitas itu pun bisa dilakukan pada saat weekend, sehingga tidak mengganggu pekerjaan rutin atau kegiatan belajar.  

KEBUN DAN TAMAN 

Namun ada pilihan lain yang tergolong sederhana tanpa banyak mengeluarkan biaya. Yaitu dengan menjelajahi setiap sudut pekarangan rumah atau lingkungan sekitar. Tentu saja pekarangan yang ditumbuhi berbagai macam aneka bentuk hidupan liar. Pada prinsipnya bila ditemukan suatu jenis spesies pasti ditemukan spesies yang lain. Karena pada dasarnya mereka mempunyai lingkaran kehidupan berupa rantai makanan. dan saling ketergantungan. 

Nah, merekam aktivitas mahluk hidup tersebut tentu saja sangat asyik dikerjakan di suatu taman atau kebun di sekitar tempat tinggal kita. Berbagai jenis tumbuhan yang hidup di dalamya dapat mejadi deretan koleksi foto flora yang cukup menarik. Dokumentasi beragam bentuk tekstur daun, batang serta eksotika berbagai jenis bunga dapat menambah khazanah imaji gambar. Pun demikian tak boleh luput jepretan buah yang banyak muncul pada saat musimnya. Untuk menambah koleksi dapat pula membidik fenomena alam lain seperti kehidupan jamur yang sering kali hanya muncul di musim penghujan. 

Tidak hanya itu, aneka jenis serangga seperti kumbang, capung serta kupu-kupu dapat dijadikan “target operasi” yang unik. Keunikan dan keindahan tubuhnya banyak di”buru” untuk dijadikan koleksi foto yang menarik Beberapa jenis burung pun kerap mampir di sekitar kebun untuk mencari makan. Aktivitas tersebut dapat dijadikan sasaran pemotretan yang seru.

Dalam sebuah pelatihan tentang fotografi satwa liar beberapa waktu lalu, seorang fotografer wildlife Indonesia, Reza Marlon, pernah memberikan tips sederhana dalam upaya memotret satwa liar. Menurut dia seringkali para para pemotret tidak sabar ketika membidik sasaran. Maka dari itu, menurut pengalaman dia, bersikap diam dan bergerak dengan hati-hati adalah hal yang paling semestinya. 

Pria yang mempunyai koleksi hewan-hewan langka di Indonesia ini juga menyarankan agar sebaiknya pemotretan satwa liar dilakukan pada pagi dan sore hari. Keuntungannya, menurut sarjana biologi itu, binatang liar umumnya aktif pada saat tersebut dan cahaya matahari dikala pagi dan sore hari tidak terlalu keras. Sebagai informasi di Indonesia ada tiga nama besar fotografer yang mendalami dunia wildlife photography. Selain Reza Marlon, yang akrab dipanggil Caca, ada juga Alain Compost dan Bas Van Balen. Mereka memliki stok foto beragam jenis hidupan alam liar yang tergolong sangat banyak. Nama terakhir adalah fotografer yang mengkhususkan diri untuk memotret dan meneliti burung beserta habitatnya. Uniknya beberapa koleksi para fotografer itu juga dihasilkan dari balik rimbunnya kebun, taman safari dan kebun binatang. Nah, itulah seni berkreatifitas dalam dunia fotografi, tak usah juga jauh-jauh ke dalam hutan untuk merekam kehidupan liar, cukup menjelajahi alam di sekitar kita saja. (Teks dan foto: Bambang Parlupi/www.sekolahalamdigital.org)