Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Kiat memotret dalam street photography

Street photography kini mulai digemari oleh para fotografer muda. Dalam diskusi lewat media www.fotografer.net pembicaraan mengenai jenis pengembangan seni memotret ini ramai diungkapkan. Serunya lagi banyak hal yang diperdebatkan mengenai aliran ini. Mulai dari pengertian sampai masalah style pemotretan.

Menurut pengertiannya street photography adalah seni memotret di jalanan. Cakupan pemotretannya dengan berbagai macam cara pemotret untuk mendiskripsikan semua aktivitas di jalanan baik manusia maupun benda lain yang ditemukan di jalan raya. Salah satu aliran fotografi ini kerap mengandalkan kepekaan imajinasi dalam melukis suatu gambar real ke dalam kamera. Kesannya yang di buat bisa bersifat artistik, dapat juga bersikap formal, dan adapula yang mengandung khazanah kesederhanaan.   

OBYEK PEMOTRETAN 

Uniknya dalam aliran ini semua objek yang diambil yakni seputar kehidupan di jalan raya. Misalnya orang dengan pakaian unik atau orang yang sedang bekerja seperti tukang parkir, tukang cukur, tukang sampah, tukang bangunan, tukang listrik PLN atau tukang copet. Moment yang menarik diambil adalah kertika mereka sedang melakukan pekerjaannya. Adapula yang hobi memanfatkan pesona bayangan Pasalnya sinar matahari yang menerpa mampu mengekspresikan apa yang dilakukan objeknya. 

Pemotretan bayangan dengan tehnik hidden identity object juga bisa dijadikan objek menarik. Bayangan ini bisa dari benda mati, maupun bernyawa. Target pemotretan lain juga dapat diambil di kehidupan jalanan seperti kendaraan umum, mobil tua yang sudah hampir punah, bahkan gedung atau bangunan. 

Menurut Arief Azrul Amar ,dalam pendapatnya di fotografer.net obyek pemotretan merupakan deskripsikan bagaimana mereka act di jalan, dengan style mereka masing2 baik degan film Black and White (hitam putih) maupun berwarna. Baik dilakukan dengan sembunyi (candid camera) atau minta ijin dengan orangnya. Menurut pandangan dia semua itu masih masuk dalam lingkup street photography. 

PERSIAPAN

Soal waktu pemotretan juga terserah masing-masing fotografer dan moment yang tepat untuk diambil. Namun ada pendapat dari Maria Kartika, seorang penggemar street fotography yang merekomendasikan antara pagi hari sampai dengan sore. Menurut pandangan dia waktunya tinggal di setting yang kira-kira paling bagus. Mau pagi (sunrise), apa sore (sunset), pasalnya pada saat matahari berada di horizon, cahaya yang mengenai awan berada di sudut tajam dengan pengelihatan kita, sehingga menghasilkan bentuk bayangan awan yang lebih manis cantik. 

Nah, jika siang hari bolong kan terjadi sudut tumpul, maka kadang awannya tidak terlukis dengan bagus. Bicara soal peralatan pada dasarnya tidak ada patokan yang jelas. Semua tergantung kebutuhan, konsep dan fasilitas yang dimiliki oleh pemotret. Modal membawa kamera dengan lensa 28-85 sudah terasa cukup. Namun ada juga yang mempersiapkan lensa tele atau wide. Termasuk pula membawa cadangan berupa poket camera yang terkesan lebih praktis untuk street photography. Uniknya para pehobi aliran ini sangat idealis dengan style mereka masing-masing. Baik dengan modal kamera digital maupun analog. Bahkan ada juga yang bermodal kamera dengan lensa standar. 

Bagi Lukas Setiaatmaja, seorang penikmat aliran ini, konsep yang jelas dan rencana yang matang sangat diperlukan sebelum melakukan aktivitas hunting. Selain itu perlu juga dibekali dengan beberapa kamera serta lensa, termasuk baterai cadangan.Begitu pula dengan persiapan makanan dan minum secukupnya. Bekal kamera poket cadangan akan berguna ketika masuk ke tempat dimana kita tidak boleh memotret tapi ada momen bagus yang sayang untuk dilewatkan. Selain itu menurut catatan dia, persiapkanlah ketahanan fisik, pasalnya harus mampu jalan kaki 2-5km sambil membawa beban kamera. (Teks dan foto: Bambang Parlupi/www.sekolahalamdigital.org)