Studi & Publikasi

sekolahalamdigital.org

Kewirausahaan


Kami siap melayani anda dalam jasa foto, video, desain grafis dan percetakan serta pembuatan buku. Hubungi kami di Telp/sms/WA:

0812-8523-6156

0813-1072-2645

Follow Us


Pengunjung

 free web counter Counter Powered by RedCounter

Foto, kado istimewa setelah wisata

Bepergian ke suatu tempat wisata atau berdarmawisata sungguh asyik dilakukan. Selain bertujuan untuk refleshing, melepas penat sejenak disela aktivitas sehari-hari, kegiatan ini pun sangat bermanfaat. Salah satu nilai positifnya yaitu menambah wawasan sambil melongok bentuk kehidupan di daerah lain.

Masalah tempat adalah selera, tinggal pilih sesuai tujuannya saja. Ada yang ingin merasakan hawa pegunungan, menikmati suasana pantai, atau berkunjung ke tempat-tempat hiburan di dalam kota. Karena pada dasarnya konsep wisata terbagi beberapa macam diantaranya, wisata alam (ecotourism), wisata dalam kota (city tour) serta wisata sejarah yaitu mengunjungi tempat-tempat sejarah bangsa. Disamping itu ada juga yang disebut wisata belanja, yang memang tujuan utamanya pergi ke pusat-pusat perbelanjaan.

Salah satu hal yang kadang terlupa terbawa oleh orang atau kelompok wisatawan adalah perlengkapan dokumentasi. Membawa kamera adalah pilihan yang tepat untuk merekam aktivitas selama berpergian. Kini dipasaran banyak beredar kamera saku yang cukup mudah mengoperasikannya. Tinggal pilih saja mau yang bentuk digital maupun kamera konvensional. Selain itu, bahkan banyak pula ponsel yang kini sudah dilengkapi perangkat kamera.

Adakalanya, para wisatawan malah kurang teliti dalam hal dokumentasi.Maksudnya, seringkali saat perjalanan kekurangan “amunisi”, karena terlalu asyik menjeprat-jepret. Rencana membawa beberapa buah film negatif juga harus dipersiapkan matang-matang, termasuk juga cadangan cadangan multimedia card pada kamera digital. Prinsipnya lebih baik membawa stok film berlebih daripada kekurangan. Dalam dunia fotografi membuat foto perjalanan seringkali disebut dengan travelling photography. Nah, misi dari foto perjalanan ada beberapa macam. Pertama adalah bertujuan untuk berwisata saja namun dilengkapi oleh pengambilan gambar sepanjang perjalanan. Dalam kondisi tersebut umumnya pengambilan foto didasarkan oleh keinginan pribadi untuk koleksi si pemotret saja. Tujuan lain adalah tugas dari kantor ata ada pesanan dari orang lain, misalnya mendokumentasikan kegiatan kebudayaan.

Berbicara mengenai peralatan, memang tak ada anjuran untuk membawa perlengkapan fotografi selengkap mungkin. Beberapa jenis lensa, seperti lensa normal, wide, maupun lensa tele memang sangat berguna untuk merekam segenap obyek wisata. Beberapa perlengkapan pendukung juga sebaiknya tak ketinggalan dibawa seperti tripot (penyangga kamera), maupun lampu blitz serta beberapa roll film atau media penyimpan gambar pada kamera digital. Pun demikian halnya jangan sampai terlupa menyelipkan sejumlah batere cadangan.

Untuk yang pemula tak usah bingung lantaran tidak memiliki perlengkapan diatas. Perlengkapan tersebut memang standart para fotografer profesional. Itu pun masih terasa kurang, karena biasanya seorang profesional akan membawa lebih dari satu kamera.

Makanya, kamera saku atau kamera SLR yang ada di rumah bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan momen-momen selama pelesiran. Wah, bila tidak punya coba berupaya untuk meminjam teman, saudara, tetangga atau bahkan memilih membeli kamera saku baru saja. Pada dasarnya kamera adalah suatu alat, baik buruknya hasil foto juga tergantung si pemotretnya.   

ETIKA  

Ada beberapa hal yang patut dimaklumi ketika kita merekam gambar di dalam kawasan wisata. Sebagai contoh adalah ada larangan dibeberapa museum untuk tidak memotret seenaknya. Di dalam kawasan Istana Bogor, juga dilarang keras untuk tidak mengambil gambar. Terlebih ketika menjelajah perkampungan Suku Baduy Dalam,di daerah Banten, jangankan untuk memotret, bila ketahuan menenteng kamera saja para pengunjung akan ditegur keras. Hal tersebut berarti ada sejumlah peraturan yang berlaku maupun hukum adat yang harus dijunjung tinggi. Ijin khusus pun mungkin bisa diberikan oleh pihak pengelola kawasan dengan menempuh prosedur tertentu. 

Uniknya disejumlah tempat wisata, seperti Candi Prambanan atau ketika masuk ke Taman Nasional Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, pihak mengelola mengenakan tarif tertentu pada orang yang membawa kamera. Peraturan demikian seringkali dimaklumi oleh para fotografer, karena pada dasarnya pengunjung yang datang ada juga yang bertujuan komersil. Maksudnya mengambil gambar suatu obyek wisata yang hasilnya dikemudian hari akan dijual atau disewakan.

Etika menghargai hak orang lain perlu pula dijunjung tinggi. Apalagi ketika ingin mengambil potret manusia atau suatu benda milik orang lain. Meminta ijin terlebih dahulu adalah hal yang paling bijaksana sebelum menekan tombol rana kamera. Harus hati-hati juga ketika asyik hunting foto di pantai, membidik orang yang sedang berjemur di tepi pantai dengan pakaian minim memang tak boleh dilakukan sembarangan.

Pada intinya foto-foto dalam sebuah perjalanan wisata merupakan buah tangan yang berharga. Imaji aneka arsitektur unik pesona budaya, kejadian menarik atau merekam bentuk aktivitas kehidupan manusia selama pelesiran memang sangat berguna. Anak, cucu maupun orang lain dapat mengetahui suatu bentuk kehidupan di belahan bumi yang lain.Kado istimewa itu merupakan kenangan suka-duka saat berwisata, pasalnya dikalangan pehobi travelling ada istilah yang berlaku “ jangan mengambil sesuatu kecuali gambar “.(Teks dan foto: Bambang Parlupi/www.sekolahalamdigital.org)